Tampilkan postingan dengan label Rusa Jantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rusa Jantan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Orang tua juga alay




Coba kalian sesekali mendengarkan radio. Radio chenel apa saja yang menyajikan tembang-tembang lama era 50-80 an. Biasanya acara itu di siarkan antara jam 9 pagi hingga jam 3 sore. Memang acara itu dikususkan untuk ibu-ibu bapak-bapak pensiunan atau yang sudah tak punya kerjaan yang masih muda saat tembang-tembang itu di dendangkan.

Tak usah mendengarkan lagunya, karna saya tahu kalian pasti tidak mengatahuinya dan tak bisa menikmatinya. Cukup kalian tunggu saat kirim-kirim salam. Saat ada sesen telfon sama penyiarnya. Kalian pasti akan menemukan hal yang sangat herankan.

Sama halnya dengan saya saat itu. Saya benar-benar keheranan mendengarkannya. Ternyata orang tua yang mendengarkan tembang-tembang itu sama alaynya dengan remaja jaman sekarang. Masak kirim salam buat temannya disebutin satu persatu dilangkapi nama lengkap, alamat dan pesan-pesanya. WAWWWOOO…… saya coba menitin ternyata lebih dari 5 menit. Mungkin penyiarnya sudah bosen dengar dan ditinggal ke toilet lalau kembali lagi saat si penelefon menyudahi salam-salamnya. 5 menit itu cukup lama untuk saling bertelefon sapa satu arus (tanpa ada timbal balik dari seberang). Anehnya lagi si penyiar masih tetap menanggapinya dengan santai dan tenang dan menurutku Cuma asal jawab iya-iya saja, selain itu sampai-sampai si penyiar hafal satu-persatu yang di telefonya hanya melalui suranya saja. Welwh-welwhhhhh……..

Parahnya lagi yang dikiriman salam itu bukan dari kota tersebut yang belum tentu dapat di dengar di kota yang menerima salam tersebut. Ternyata orang tua itu memiliki ke Alayan sendiri. mungkin juga orang alay itu sudah ada semenjak kakek nenekku. Aku kurang tahu pasti, yang jelas yang saya dengarkan orang-orang  tersebut cukup alay di mata saya.

Mungkin tahapan kehidupan orang di Indonesia itu dimulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, alay tahap 1, dewasa, alay tahap 2 barulah tua.

Minggu, 15 Juli 2012

foto Amatir di Area Magang

pohon

jalan sore

bunga di tepi jalan

rimbun


jalanan

tiang listrik

menjulang ke langit

lintas jalan

jalan pulang

Sabtu, 07 Juli 2012

Magang hari keenam: tidur sendirian



Pagi setalah bagun kita (aku dan Muzaki) segera meluncur seperti biasanya ke kandang satu. Seperti hari-hari kemarin kita langsung membantu memberi pakan dan minum tak lupa kami juga ikut perluasan kandang. Hari itu di kabarkan bakal ada cek in DOC di kandang tiga tetapi agak sore. Alasanya karena perjalanan dalam keadaaan macet total. Maklum hari ini adalah minggu terahir dalam libur panajang anak sekolah jadiwajar kalau jalan-jalan macet total.

Baru jam 03.00 ayam-ayam itu datang. Parahnya saat datang keadaan ayam-ayam itu lemas. Diperkirakan karena terlalu lama dalam perjalanan. Keadaan ayam-ayam baru itu seperti hampir mati semua tertidur dan lemas tetepi masih bernafas.

Sukurnya setelah di beri air minum ayam-ayam itu langsung bangun dan segar kembali. Setelah masuk kandang langsug saja ayam-ayam itu mencari minum dan makan di tempat yang telah tersedia. Mungkin seperti kita orang yang berpuasa setelah hampir 24 jam tidak makan minum lalau disedakan makan dan mium tak terbatas langsung makan sepuasnya sampai kenyang. Hahaaaa…….

Setelah penanganan DOC itu aku langsung pulang kembali ke mess. Rasanya lelah sekali  setelah kerja lembur sampai sore seperti itu. Di persendian kaki dan bagian perut rasanya kesemutan semuanya. Benar-benar sakit.

Sesampai di mess aku langsung mandi lagi, bersihin muka, sikat gigi lalu pakai handuk dan memakai baju dan celana pendek. Setelah itu kupakai sarung lalau aku tidur-tiduran di dalam mess. Sore itu Muzaki pulan agak malaman setelah magrib. Tetapi setelah itu dia pamit untuk pergi ke Malang untuk menghadiri acara BEM. Jadilah aku tidur sendiri.

Malam itu aku tidur sendiri  sambil melihat final Indonesia Idol yang pada ahirnya jam 12.00 malam di umumkan pemenangnya adalah Regina. Setalah itu aku berusaha tidur. Iya berusaha tidur karena hampir sampai jam 02.00 lebih aku sama sekali tak bisa tidur.

Kalau kalian tahu tempat magangku itu sedikit menyeramkan. Jauh dari perdesaan dan jalan raya. Banyak pohon randu yang konon katanya orang jawa itu adalah pohon yang suka dihuni oleh sosok gaib yang di sebut gendruo. Selain itu konon katanya dulu waktu jaman PKI daerah situ digunakan untuk tempat pembunuhan PKI.

Malam itu, entah pukul berapa aku mendengar suara lonceng. Lonceng itu seperti lonceng seorang penari remong. Kudengarkan dengan hati-hati dan teliti suara itu benar-benar ada. Tetapi yang membiki  aku aneh masak ada orang yang membunyikan lonceng seperti it di daerah sini. Padahal jauh dari perumahan penduduk. Lagian mess yang lain sama sekali tak ada yang menghuni. Karena besuk libur jadinya banyak yang pulang. Yang ada tinggal satpam dan orang yang jaga di kandang. Jarak kandang dan mess lumayan jauh sekitar 200 m.

Pikiranku setelah itu melayang ga karuan. Antara takut, penasaran ingin melihat dan banyak lagi. Pasanya suara lonceng itu berasal dari halaman belakang mess yang saying sekali dari kamarku tertutup tembok jadi aku tak bisa melihatnya jika tidak berputar lewat pintu depan.

Dengan rasa yang tak tentu aku langsung berusaha tidur kembali. Kubaca surat al-fatihah sebanyak tujuh kali lalu aku berusaha tidur. Ku sumpal telingaku dengan MP3 agar tak mendengar suara itu. Dan sekitar jam dua pagi lebih aku tertidur.

Hari kelima: telefon dari papa


Pagi yang cukup dingin untuk bangun di pagi hari ini. Udara ahir-ahir ini di kandang maupun di mess sama-sama super dingin. Di dalam kandang yang menggunakan pemanas suhunya bisa sampai 230C. apalagi yang tidak memakai pemansa seperti di mess. Ditambah angin yang betriup cukup kencang. Menambah aku menjadi malas bangun.

Jam 06.30 aku dan muzaki langsung menuju ke kandang. Dengan menggunakan air hangat kami mandi dan meluncur ke kandang. Dengan baju lapang yang sam sekali tek tebal membuat udara dingin tambah menusuk di kulit.

Sesampainya di kandang kita membantu member pakan pada ayam. Lalu kita dapat kabar kalu kari ini aka nada DOC masuk lagi. Aku mulai kawatir kalu dalam pemasukan DOC itu kita mengalami kesalahan lagi.

DOC datang pada saat jam menunjukkan waktu akan sholat jumat. Sekitar jam 10.30 DOC baru datang, lalu dilakukan penimbangan dan peleapsan DOC hingga jam 12.30. berarti kami semua tidak ada yang sholat jumata.

Mau bagai mana lagi ayam-ayam itulah yang member kehidupan pada semua pekerja, merekalah yang menghasilakan uang buat perusahaan ini. Uang yang ahirnya untuk membayar gaji-gaji karyawan. Selain itu jika DOC tidak segera di tangani yang di takutkan adalah DOC-DOC itu mati karena dehidrasi dalam perjalanan. Mungkin juga ini salah  menegemen, mengapa pendatangan DOC pada waktu hari Jumat. Tapi nasi sudah jadi bubur, mau bagai mana lagi.

Setelah semuanya makan siang aku, muzaki dan panji mendapat tugas sendiri-sendiri. aku dan Muzaki membantu peluasan kandang. Sedangkan Panji mendapat tugas disinfektan kandang. Kami saat itu tidak diberikan waktu kesempatan untuk vaksinasi. Mungkin gara gara ulah kami yang membuat mata ayam itu bengkak karena salah vaksinasi sehingga kami tidak diberi kesempatan untuk ikut faksinasi lagi.

Di tengah-tengah aku dan muzaki membantu perluasan kandang muzaki mendapat telefon. Saat di telefon aku kira temanya atu bapaknya yang telefon. Tetapi setelah selesai percakapan dia bilang kalu dari Papanya Panji.

Kata muzaki papanya panji bilang kalau Panji marah pada kami soal becanda kami soal tv di dalam mess. Waw…. Fantatis. Soal sepele saja sampai dibilangin orang tuanya, ditambah orang tuanya itu lo… koq sampai mau menelfon temannya yang di ajak bercanda. Padahal Panji sendiri kalu bercanda dengan kami lebih keterlaluan dari pada kami.

Dalam angan kami berdua, Panji itu kalu di rumah seperti apa? Sampai-samai masalah bercanda saja di laporkan orang tuanya. Orang tua Panji sendiri sebenarnya juga seperti apa? Hal sepele yang biasa dan sangat wajar dalam kehidupan bermasarakat saja sampi di urus-urus segala.

Aku benar-benar sama sekali tak tahu tentang kehidupannya Panji. Orangnya benar-benar aneh. Seperti orang idiot yang memiliki jiwa anak-akan tetapi terperangkap dalam tubuh dewasa. Dia sama sekali tak mau bekerja, maunya hanya bercanda tetapi saat bercanda dan dia kalah omongan dia marah. Selain itu dia sama sekali tak memiliki rasa tanggung jawab. Ya benar-benar seperti anak kecil. Aneh. Aku sama sekali tak bisa mengetahui jalan pikirannya. 

Kamis, 05 Juli 2012

Hari ke empat: telefon saat tidur





Ternyata hari tidur di kandang itu sangat tidak enak. Memang bukan secara langsung tidur di samping ayam-ayam tetapi tidur di depan kandang tempat gudang pakan dan tempat anak kandang kalau sedang berkumpul. Ya denanya seperti ini:
Bukannya saya tak mau tidur di kandang, tetapi karena alasan lain saya tak menyukainya. Pertama karena udara super duper dingin, kedua tidak ada tempat setrategis yang enak buat tidur, ketiga karena kalau sholat atau mau kencing jauh cukup lumayan jauh.

Selain itu alasan yang paling sederhana karena ……. Buat apa ada mess kalau ga di gunakan. Padahal yang paling aku bangga banggakan kalau di depan teman-teman soal tempat magangku adalah fasilitas mess dan makan gratisnya. Coba kalu kubilang gini ke teman-temanku “aku kalau magang tidurnya di kandang”, pasti teman-temanku pada ketawa HAHAHA……. HIHIHI….. WKWKWK…… HOHOHO…….

Makanya aku  bulang kalau aku suka tinggal di mess dari pada tinggal di kandang. Soal mau tinggal di kandang wahhh…. Itu soal lain. Boleh kalau di bilang itu untuk mencari nilai agar dapat nilai A, boleh juga aku mau karena banyak teman tapi, tetap aku lebih suka tinggal di mess yang ada tempat tidurnya, tV nya, kamar mandi dalam, bisa bebas pakai jaket dam selimut, juga enak ga ada yang gangguin.

Kembali pada kejadian hari ini. Acara pada hari ini dimulai dengan member makan dan minum ayam-ayam di kandang satu setelah sholat subuh. Bersama pak Jun, pak Pri, mas Yoyok dll kami memulainya setalah adan subuh. Saat masih pagi-pagi buta, jam 3.00 tepatnya meneger pak Alih datang untuk meninjau kami. Sebenarnya aku sama sekali tak tahu kalau Pak Alih datang karena saat dia datang aku menghap tembok. Yang memberitahukan kalau Pak Alih datang adalah Pak Jun yang selaku oprator dan anak kandang. Memang saat dia datang aku mendengar suara mobil kantoar dan suara pintu dibuka tatapi saat itu saya pikir itu adalah saha seorang diantara kami yang sedang keluar saja.

Dan masih seperti biasanya temanku Panji tidur dengan nyenyaknya. Kami bangunkan berkali-kali, dia tidak segera bangun. Setelah itu kami tinggal dia untuk bekerja lagi. Sekitar pukul 6.30 pekerjaan itu selesai. Setelah selesai itu mamanya Panji menelfon Panji, barulah setelah di telefon mamanya dia bangun. Enak juga ternyata hidupnya, habis bangun pagi langsung kopi dan rokokan. Padahal yang lain bekerja ekstra baru setelah itu kopi dan makan.

Jangan harap makan pagi sama enaknya dengan makan siang dan sore yang lauknya minimal ikan. Kalau pagi jatah makanya hanya nasi bungkus dengan lauk tahu, tempe atau rempeyek saja. Teteapi tetap saja makanya lezat di santap.

Entah kenapa ayam-ayam di sana banyak yang mati, rata-rata banyak yang mata kirinya bengkak. Kata Pak Drh. Bambang itu karena salah memvaksin. Nah dari situlah aku merasa bersalah. Karena aku paling amatir diantara orang-orang yang memvaksin. Gara-gara mendengar pembicaraan itu akau manajadi takut untuk memvaksin lagi. Yang aku takutkan adalah dapat mengurangi produksi perusahaan itu, iya kalau aku karyawan di sisni aku harus mempertanggung jawabkannya tetapi jika akau hanya anak magang yang Cuma coba-coba saja dan hasilnya banyak yang mati aku menjadi ga enak sama para tetingginya.

Siang harinya saat pelebaran kandang aku di suruh ikut untuk seterilisasi kandang di kandang empat. Sedangkan muzaki dan Panji tetap di kandang satu. Tugasku cukup mudah hanya menarik selang penyempron di dalam kandang. Sedangkan yang bagian menyemprot adalah petugasnya.

Sore itu aku dan Muzaki memutuskan untuk kembali di mess. Kami memilih tidur di mess karena di sana sudah ada TV. Lagian malam ini adalah malam Jumat, saatnya memperbanyak ibadah.

Di saat di tengah-tengah tidur ponselku berdering dari no yang tak di kenala. Pastilah aku sangat males mengangkatnya, apalagi di tengah-tengah tidur seperti itu. Setelah dua kali tak ku angkat barulah pemilik nomer itu mengirim sms padaku yang isinya ternyata dari mamanya Panji.

Mamanya tanya ini itu soal Panji. Oh ya saat itu panji memilih tinggal di kandang, menurut pendapatnya sih lebih enak tanya ini itu saat malam dari pada siang hari. Dengan alasan sederhana itu dia memilih tidur di kandang. Mamanya Panji ngobrol panjang banget. Mungkin panjangsa sama seperti rangkaian gerbong kereta. Akupun karena malas ya asal-asal balas pertanyaannya. Asal iya-iya dan iya saja, jarang saya mengatakan tidak kecualai saat bilang “maaf ya mas mengganggu”, karena sungkan ya saya balas “tidak koq bu, tidak mengganggu”. Padahal lumayan heheee…… (maaf ya bu).

Setelah itu saya tidur lagi sampai pagi.

Rabu, 04 Juli 2012

Hari ketiga: Tv, udang goring dan menginap di kandang



Hari ketiga ini kami langsung meluncur ke kandang 16 yang pada hari ini berganti no menjadi kandang 1. Seperti kemarin Panji susah sekali bangun sebelum ibunya menelfon (dasar anak Mama). Aku dan Muzaki telah bangun terlebih dahulu untuk sikat gigi dan membersihkan muka menggunakan sabun muka sebelum masuk. Memang sebelum masuk di haruskan mandi dulu, disana juga telah disediakan sabun dan sampo tetapi tidak disediakan pasta gigi maupun sikat gigi. Tetapi Panji setelah bangun bukanya sikat gigi dulu tetapi langsung meluncur ke farm.

Aku pikir-pikir sepertinya selama kita berangkat kemari namanya Panji sama sekali tidak menggosok gigi. Nyatanya di kamar mandi mess kami aku tak menemukan sikat gigi maupun pasta giginya. Apa mulutnya ga lengketlengket ya???? Dan bau mulutnya seperti apa???? Bagi pembaca jangan lupa menggosok gigi minimal 2x sehari.

Di kandang satu (kemarin namanya kandang 16 tetapi mulai hari ini telah ganti) kami mulai membantu memberikan pakan dan minum. Dari situ kulihat banyak ayam yang mati, dugaanku karena ayam kedinginan atau kepanasan. Dan menurut pengalamanku hal itu biasa pada DOC yang baru saja masuk kandang.

Setalah semua selesai kami bisa duduk-duduk sambil tanya-tanya ini itu yang kami anggap belum paham. Sampai jam istirahatpun kami masih asik dengan perbincangan kesana kemari. Sambil makan dan bercanda di bawah pohon rindang kami (kususnya aku) merasa sudah mulai akrab dengan mereka para karyawan.

Setelah jam istirahat siang selesai kami mulai bekerja kembali member makan dan minum para bos ayam. Walau mereka bos kami tetapi kami adalah juragan mereka. Kami berusaha memberikan pelayanan terbaik buat bos hingga kami (pekerja) mendapatkan gaji, tetapi yang paling membutuhkan kami adalah mereka karena kamilah yang memberinya makan.

Di tengah-tengah itu tiba-tiba Pak Rosid menyuruh kami mebantu di kandang 8, aku pikir penyemprotan di infektan lagi. Ternyata tidak. Kami di kandang 8 mendapat tugas membantu mengangkut karung-karung sekam yang jumlahnya ratusan karung tersebut. Bersama banyak pekerja kami mulai mencoba.

1,2,3,4…..16,17 angkutan aku mulai K.O. tubuhku yang krempeng ini jelas tak bisa soal bekerja dengan fisik. Aku lebih suka bekerja dengan otak. Berbeda dengan Muzaki yang memang kuat dalam hat otot itu dia bisa mengimbangi para pekerja yang telah terbiasa tersebut. Di tengah-tangah angkutan kami semua beristirahat. Kulihat Panji mulai menggaruk-garuk seluruh tubuhnya seperti kera yang banyak kutunya. Tetapi aku jelas tak menghiraukanya, aku sendiri kualahan fisik tak karuan.

Siff kedua dalam hal angkut mengangkut sekam tersebut dilanjutkan. Aku masih tetap membantu tetapi tidak serajin saat awal. Aku saat itu lebih sering istirahat karena memang benar-benar capek. Muzaki tetap bisa mengimbang para pengangkut tersebut. Dan Panji tetap sibuk dengan seluruh tubuhnya.

Istirahat kedua kalinya kumanfaatkan untuk menjauh dari kerumunan karena aku benar-benar kehabisan tenaga. Rasanya tubuh ini benar-benar lemas. Tak kuhiraukan keramaian yang ada, aku berbaring di dalam kandang dan mulai mengatur nafas. Tak tahu sudah berapa lama aku beristirahat, saat aku kembali ternyata sudah banyak karung sekam yang telah tertumpuk.

Aku kembali ke kerumunan, para pekerja sama sepertinya sama sekali tak merasa kelelahan. Ulah Panji semakin menjadi-jadi dalam menggaruk-garauk seluruh tubuhnya. Mungkin dia tak tahan dengan sekam padi atau entah aku tak tahu. Kini tubuh Panji seperti udang goring atu udang rebus yang telah matang. Kulitnya kemerah-merahan karena garukan tanganya. Para pekerjapun mulai kebingungan karena kulit Panji berubah menjadi merah.

Entah karena dia anak mama atau apa sehingga dia tak kuat dengan sekam padi. Padahal dia anak mapala (mahasiswa pecinta alam) yang kuat tak mandi 3 hari 3 malam, kuat keluar masuk hutan masak dengan sekam padi saja sampai kualahan. Sampai-sampai para pekerja menyebutnya anak lima tahun. Salah seorang pekerja menyelutuk “anak lima tahun seperti itu koq di suruh kerja. Jadi merah-merah tuh badannya”. Mendengar cletukan pekerja itu kami semua tertawa terpingkal-pingkal.
Ibnu Panji

Saat itu segera dia pergi dan meminjam motor untuk beli obat gatal. Dia meninggalkan aku dan Muzaki (orangnya memang tak setia kawanan menurutku) disini. Kami menyelesaikan angkut-angkut itu lalu kita kembali ke kandang satu. Di kandang itu kami beristirahat sejenak.

Di tengah-tengah istirahat Pak Rosid datang dan menyuruh kami mau bermalam di kandang sambil menelihat keadaan saat malam hari di dalam kandang. Kami pun menjawab kenapa tidak, soalnya di mess tidak ada TV. Dia pun menyarankan agar kami kembali ke mess dulu untuk membawa peralatan lalu kembali lagi kekandang.

Mengikuti saran aku dan Muzaki kembali ke mess. Ternyata di depan mess kami sudah terdapat TV 21”. Dengan senang hati kami maukkan tv itu kedalam mess dan kami coba hidupkan. Di tengah-tengan mempersiapakan diri bermalam di kandang Panji datang. Dia kaget “lho…. Koq ada tv?”. Aku dan Muzaki pun menjawab dengan hampr serempak “lha ini kan kiriman ibu mu? Emang ibumu ga bilang kamu dulu,” candaku dan Muzaki. Kami pun setelah itu berdiam diri.

Panji langsung turun ke kandang karena dia memang ingin tinggal di kandang sedangkan aku dan Muzaki memutuskan kekandang setelah sholat isak.  Yang jelas kami di mess memperciapakan CD (celana dalam), sikat, odol u tuk bermalam. Sedangkan kulihat tadi Panji Cuma membawa jajanan saja tanpa membawa sikat, odol bahkan CD baru.

Ternyata Panji itu orangnya aneh menurutku. Orang segede itu, sebringas itu dan seberani itu ternyata anak mama papa, tiap hari di telfon mama papa nya minimal 2x. kalau ga di angkat telfonya ganti mama papanya menelfon temanya. Dan dari mana orang tuanya mendapat no telfon teman-temnnya? Hal seperti ini menggangguku karena akulah yang kadi korban telfon mama papanya Panji. Selain itu dia selam ini tidak pernah sikat gigi, tidak pernah ganti CD padahal dia yang membawa 2 tas gede-gede. Sedangkan aku dan muzaki Cuma sat tas saja.

Lanjut, malam di kandang kerjanya sama seperti siang hanya memberi pakan minum saja. Permasalan tidur di kandang adalahudaranya yang dingin sedingin es. Mau tidur di samping ayam sebenarnya bisa tetapi masak tidur di samping kandang. Malam itu aku sama sekali tak bisa tidur. Seluruh tubuh menggigil kedinginan. Mau bawa jaket tetapi tidak boleh, karena di sini sudah di sediakan seragam dan hanya seragam itu yang boleh masuk. Jika bawa tas, tasnya di sita. Isinya di keluarin dan di kasih kresek.

Ternyata tidur di kandang tidak menyenangkan.

Selasa, 03 Juli 2012

magang kedua


Hari kedua dalam kegiat magang kali ini dimulai dari bangun kesiangan semuanya. Padahal kemarin perintahnya jam setengah delapan sudah masuk ke farm tetapi kenyataanya kami semua baru bangun jam tujuh lebih. Aku dan muzaki sebenarnya tak masalah, tetapi kenyataanya Panji waw… susah sekali bangunya. Padahal pagi-pagi dia sudah di telfon ibunya, alarampun sudah berbunyi berulang-ulang tetapi tetap tidak bangun sama sekali.

Pagi itu setelah bangun pagi kami segera mandi di shower sebelum masuk ke farm tak lupa di semprot disenfektan terlebih dahulu. Panji yang dengan mata masih ngantuk berat mendahuluiku dan segera mandi duluan, diteruskan Muzaki dan seperti biasanya aku terahir. Setelah masuk ke dalam kami celingukan karena tidak tahu harus berbuat apa. Tak ada  kemari, perintah hanya satu masuk jam setengah delapan saja.

Dalam kebingunan itu kami bertemu pak Alih selaku pembimbing magang kami di tempat magang ini. Dia langsung menyuruh kami di kandang 16 yang terletak paling bawah dan yang paling belakang (bentuk kandangnya turun kebawah seperti di perbukitan). Setelah masuk shower disinfektan dan ganti baju seragam kami segera turun.

Ternyata tempatnya lumayan jauh kandang 16 tersebut. Kami melewati kandang 1-15, masing-masing kandang memiliki lebar 12 m dan jarak antar kandang mungkin juga 12 m. jalanya menurun tetapi tidak melandai. Di depan kandang 8 (ditangah-tengah) kami disuruh masuk sower disinfektan lagi oleh satpam yang jaga di dalam sebelum melanjutkan perjalanan ke kandang 16.

Sesampai di kandang 16 kebingunan lagi yang kita dapatkan. Disana ada beberapa orang tetapi kami sama sekali belum mengenalnya. Entah mengapa dari semua kandang yang paling ramai adalah kandang 16 ini. Usut punya usut setalah memperkenalkan diri dan basa basi ternyata kandang 16 akan cek in DOC dan kami di suruh membantu.

Tak tanggung-tanggung DOC yang akan masuk hari ini sebesar 10.000 ekor. Itu hanya untuk kandang 16 saja sedang kandang lain akan menyusul sesuai jatwal yang telah di tentukan. Menurut oprator kandang hari Jumat nanti (tanggal 6) akan datang DOC lagi di kandang sebelah.

Setelah dikabarkan DOC sudah datang semuanya bersiap-siap dan kami hanya bingung karena harus membantu apa. Saat DOC datang semuanya mengangkut box-box DOC di dalam kandang, muzaki juga ikut dan aku hanya berdiri karena semuanya sudah ada yang mengurusi. Sedangkan Pnaji asik-asik mengambil foto yang hasilnya seperti ini :






Setalah semua masuk setiap box di hitung beratnya. Yang paling ringan di taruh di dalam pen lima yang terletak paling belakang (setiap kandang dibagi menjadi lima pen) untuk yang ayam betiana hingga pen dua untuk yang paling berat. Sedang untuk pen satu kusus untuk jantan. Perbandingan jantan dan betina sekitar 1:8.

Setalah setiap pen di sediakan 24 box yang dibagi dalam empat kandang broiler. Sebelum pelepasan DOC dilakuakan doa bersama agara hasil di periode ini bisa mencapai target. Setelah berdoa lalu ayam-ayam dalam box tersebut dimasukkan kandang. Pemasukan ayam pertama masing-masing orang harus membaca shalawat 7 x dan surat Al-fatiqah. Lalu ayam di beri minum langsung dengan cara parunhnya di celupkan kedalam air gula. Ini dilakukan agar ayam segera mangerti air minumnya dan sekaligus memberikan energy yang berasal dari air gula.


Sambil DOC dimasukkan tak lupa jumlahnya tiap box dihitung. Disini lah aku merasa orang terbodoh. Dari semua orang menghitung itu jumlahnya 84 ekor/box sedangkan aku pasti lebih 86 atau 88 ekor. Disini aku merasa aku sama sekali tak cakap menghitung. Teman-temankupun sama tetapi jumlahnya tak sampai 88 ekor sepertiku paling banter ya 86 ekor. Gara-gara itu aku menjadi malam untuk menghitung box-bok DOC lagi soalnya hitunganku selalu jauh dari yang lain (lebih dari 84 ekor).

Anehnya lagi (atau pikiranku saja) ayam-ayam itu mengapa semuanya berkumpul di pinggir. Padahal menurut teori harusnya ayam tersebut bisa menyebar tidak bergerombol seperti ini. Menurut teoriku hal seperti ini kemungkinan karena udara terlalu panas atau udara terlalu dingin. Apakah para menejer dan ara dokter hewan tersebut tidak ada yang menyadarinya???

Setelah semua DOC masuk dalam kandang lalu istirahat. Makan siang dalam wadah box makan ala taperwer telah dikirim ke kandang ini. Kami semua makan bersama, siang itu lauknya ikan. Sebagian dari kami makan diluar kandang di bawah pohon talok/ceres/widoro(nama tamanan itu di rumah). Setalah itu aku sholat di musola kecil (sangat kecil, lebih kecil dari tempat sholatku di rumah).

Jam istirahat berahir sekitar pukul 13.30 dan acara di lanjutka vaksinasi DOC. DOC sebanyak itu akan di vaksin enam orang. Dalam pikirku betapa capeknya dan lamanaya vaksianai nanti. Aku dan panji diberi kesempatan untuk vaksianasi dan Muzaki disinfektan persiapan kandang di kandang 14.

Dugaanku benar, selama 3 jam kami belum menyelesaikan setengahnya. Aku yang telah capek memilih beristirahat dan sholat terlebh dahulu. Setalah beristirahat rencananya aku mau kembali memvaksi lagi tetapi melihat Panji dan Muzaki di kandang 14 aku tak jadi ikut vaksianasi. Kami malah mengobrol di kandang 14.

Saat ada pekerja yang tadi menyuruhku ikut vaksinasi lewat di depan kami bukanya aku di suruh kemali tetapi di persilahkan istirahat di mess. Dalam hati Alhamdulillah…. Bisa istirahat. Memang jam saat itu telah menunjukkan jam 16.30 melebihi jam pulang yang sebenarnya. Ahirnya kami bertiga kemabali ke mess kami.

Senin, 02 Juli 2012

magang pertama


Hari ini adalah kegiatan magang pertama di PT Super Unggas Jaya (Suja) Pasuruan. Hari ini juga saya dan kedua teman saya berangkat. Mau bagaimana lagi, kita bikin janji hari ini. Jadi kita berangkat malam tanggal 1 Juli 2012 jam 10 malam.

Rencana awal kami akan naik bus jurusan Jogja Surabya dan kami perkirakan sampai disana ketika subuh dan melanjutkan ke naik bus arah Kota Malang berhenti di Pasuruan. Tetepi rencana yang kami susun meleset dengan sangat tajam. Kami semua tak menyangka kalau malam itu arus dari Jogja Ke Surabaya sangat-sangan dan super padat.
Kepadatan itu terlihat saat kami masih menunggu di halte depan kampus. Di halte tersebut sangatlah penuh penunggu yang kearah Surabanya ditambah lagi bus yang datang selalu dipenuhi oleh penumpang-penumpang yang berdiri. Lalu kami putuskan untuk mencari bus di terminal Tertonadi Solo. Hal sama pun terlihat di sana, penumpukan ribuan penumpang yang menuju Surabaya telah penuh sesak. Jika ada bus yang menuju arah Surabaya datang ribuan orang langsung berebut untuk memasukinya. Alhasil setelah menunggu hampir dua jam kami belum dapat bus.
Pikiran kami ahirnya mencari alternative lain yaitu mencater taxi. Memang sangatlah mahal tetapi mau bagai mana lagi, namanya kepepet yang penting selamat dan sehat. Satu taksi meminta 900 ribu sampai Surabaya, harga yang sangat mahal karena biasanya 600 ribu saja sudah bisa sampai Surabaya. Naasnya dari semua taxi yg kami minta berlaku tarif yang sama yaitu 900 ribu.
Kamipun memutar otak lagi dan jalan keluarnya adalah mencari penumpang lain yang searah ke Surabaya. Waktu itu taxi yang kami pilih adalah model avanza jadi bisa dinaiki 7 orang penumpang. Waktu cari teman kami lihat ada dua cewek yang juga sedang menawar taksi dan kamipum menghampirinya.
Setelah percakapan yang tak terlalu panjang ahirnya kita sepakat untuk mencari taxi bersama. Dia (cewek twesebut) bersama 3 temanya dan dengan kami bertiga jadi genap 7 orang. Mereka adalah mahasiswa UNESA dan UM Malang yang sedang mengadakan acara di Jogja dan saat kembali mereka hanya sampai Solo saja.
Setelah itu kami ber tujuh mencoba mencari taxi di luar terminal dan berharap mendapat harga yang relative murah tetapi ternyata tidak. Semuanya membandrol harga 900 ribu dan hanya samai Surabaya. Ahirnya mau tak mau kami sepakati.
Tak banyak cerita saat di dalam taxi karena semuanya sedang kelelahan. Kami hanya bicara tentang kami masing-masing lalu semua tertidur. Bangun-bangaun kita sudah sampi di terminal bungurasih Surabaya. Di terminal itu kami semua berpisah semuanya. Yang Surabaya menunggu jemputan, yang ke Malang naik bus patas dan kami naik bus biasa.
Seperti saat masih di Solo, di Surabaya pun penumpangnya sangatlah penuh. Kamipun berdesak-desakan di atas bus. Hampir-hampir kita tak bisa melihat jalan. Saking ga kuatnya kita naik bus itu kami memilih berhenti walau belum sampai tujuan. Kamipun meneruskan naik angkot menuju tampat kami magang.

Setiba di kantor tempat magang kami beristirahat sejenak karena kantornya masih belum buka. Kami istirahat dan mandi di masjid dekat kantor. tak lupa kami beli sarapan pagi. Setelah selesai sarapan kami kembali lagi ke kantor tempat kami magang.
Setelah menunggu beberapa lama kami segera di antarkan ke tempat kami magang yang sesungguhnya yang berjarak sekitar 2 km dari kantor tersebut. Dalam perjalanan itu terlihat sangat sepi, kanan kiri hanya sawah dan pohon-pohon kapuk (randu). Tak ada satu desapun yang kami lalui.
Awal sampai tempat magang yang berupa pembibtan ayam kali disambut oleh pak satpam dan kami disuruhnya mandi dan seterilisasi. Di sini kami telah disisapkan sabun, sampo, handuk dan baju untuk transit ke kantor. setelah itu kami menuju kantor di dalam peternakan tersebut.
Tanpa menggunakan alas kaki kami masuk ke kantor, sepatu kami tidak boleh masuk ke wilayah tersebut. Semua yang masuk wilayah tersebut harus melewati seterilisasi. Di kantor kami bertemu beberapa meneger dan kami diberitahu ini itu sebelum di persilahkan masuk mess yang telah di sediakan. Kami di suruh kembali siang nanti.
Di dalam mess hanya ada kami bertiga dengan 2 tempat tidur, satu almari dan dilengkapi kamar mandi dalam. Yang jelas kami bersukur karena telah di sediakan mess bagi kami, di bandingkan teman kai yang harus mencari tempat tinggal untuk magang selama satu bulan.
Dalam istirahat tersebut ada yang mengirimi kami makan siang, ternyata selain dapat mess kami juga dapat makan 3 x sehari. Sukur lah…. Alhamdulillah ya… (ala sahrini heheee…).
Setelah kami beres-beres dan istirahat sejenak kami kembali ke kantor dan menemui pak Alih sebagai pembimbing magang kami di sisni. Kami ahirnya disuruh untuk mandi lagi dang anti baju lagi. Kali ini bukan baju translit tetapi baju kerja. Pada hari pertama kami kerja untuk membersihkan peralatan-peralatan kandang. Kamipun mulai berbaur dengan para pegawai disana.Menurut kabar nanti setelah jam kantor usai kami aka nada acara tumpengan sebagai rasa sukur karena besok aka nada cek in ayam (masuknya DOC baru). Sebagai pendatang baru kampun juga ikut walaupun sedikit kikuk.
Setelah tugas kami selesaikan ahirnya semua pegawai di panggil di sebuah ruangan, semua yang belum ganti baju segera ganti baju translit termasuk kami. Sore itu para petinggi perusahaan membawa lima nasi tumpeng yang nantinya akan dimakan bersama. Setelah acara penyambutan, doa bersama dan pemberian hadiah pada pegawai teladan kami makan bersama. Tanpa ragu aku dan temanku melahap nasi tumpeng yang ada, walau sebenarnya saya tidak suka dengan sayurnya tetapi karena di makan bersama saya makan juga.
Hari itu saya habiskan dengan tidur setelah makan malam dan sholat isak tanpa ingat kejadian apa-apa lagi. Soalnya selama di taksi saya sama sekali tak bisa tidur dengan nyanyaknya. Jadi pembalasan dendam tidur itu aku lampiaskan pada malam ini.


Kamis, 19 April 2012

Pulang Malam Yang Gelap dan Hujan


Kemarin karena ibu sakit dan keponakanku sakit aku jadinya pulang. Setengah mendadak tanpa pikir panjang sore itu aku pulang juga. Tanpa banyak barang yang ku bawa aku langsung tancap gas untuk segera sampai rumah. Sekitar jam 4 sore stelah mengumpulkan laporan pratikum aku langsung pulang.

Belum sampai jarak 5 km tiba-tiba langsung hujan deras. Padahal cahaya matahari masih bersinar, udarapun massih sangat panas tetapi di wilayah itu hujan deras. Ahirnya aku putuskan untuk berhenti dan memakai jas hujan. Yang jelas bukan aku saja yang berhenti utuk memakiaj jas hujan, tetapi para pengndara montor lain.

Belum sampai jarak 5 km lagi cuaca kembali terang benderang. Ahirnya ku copot jas hujannya. Untung jas hujanku seperti jaket yang mudah di pakai dan di lepas. Tapi yang paling malas pakai sepatu, karena aku ga bawa sandal jadi kalau hujan sepatu kumasukin k etas dan saat terang kupakai lagi.

Lagi-lagi masih jarak berapa km, masih berapa menit jalan hujan lagi. Padahal cahaya matahari tak tertutup mendung sore itu, dan kulihat awan tak tebal tetapi kenyataanya hujan sangat deras sekal. Di sebuah gapura ku pakai lagi jas hujanku dan ku copot  sepatuku.

Ahirnya aku naik sepeda motor tanapa sepatu. Air hujan membasahi kakiku, rasanya dingin. Tetes hujan mengenai wajahku dan rasanya panas. Tapi tetap kulaju sepeda motorku. Walaupun hujan ahirnya turun rintik-rintik tak sederas tadi dengan tanpa sepatu sepeda motor ku pacu.

Hingga ahirnya hujan benar-benar berhenti reda dan kulihat langit di arah tujuanku terang tak berawan aku  kembal melepas jas hujanku. Di sebuah emeran toko tutup kulipat dan kumsukkan jas hujanku. Kupakai lagi sepatu dan kaos kalinya. Kuturunkan celana yang tadinya kusingsingkan hingga lutut dan kulaju lagi sepeda motorku.

Tiba di perempatan batu kulirik jam sudah menunjukkan angka 1,5 jam lebih dari waktu awal aku berangkat. Ku dengar juga sayup-sayup rekaman Al-Quran pertanda magrib hamr tiba. Padalah kalau biasanya hanya perlu satu jam aku sampai daerah itu tapi hari ini 1,5 jam lebih. Mungkin karena aku 4X berhenti ditambah hujan deras sehingga aku tak bisa memacu sepeda motorku dengan cepat.


Karena sudah waktunya sholat magrib dan kemungkinan sampai rumah jam sholat magrib telah habis maka aku segera cari masjit. Kuputuskan berhenti di masjit yang biasanya kupakai beristirahat saat pulang kerumah seperti ini. Saat sebelum salat langit masib belum terlalu gelap, kulihat banyak orang dari luar kota yang seperti aku juga sedang akan menjalankan sholat. Ahirnya kami sholat berjamaah di sana dengan orang-orang dari luar kota semua.

Sehabis sholat magrib dan berzikir aku segera keluar. Kuliah gelap mulai datang, bintang di barat juga sudah bersinar. Tanpa pikir panjang ku segera melaju kendaraan. Sebelumnya ku nyalakan sebuah rokok yang kubawa dari rumah agar dapat mengurangi dinginya udara malam.

Saat itu aku teringat terahir kali pulang malam. Jalanya gelap tanpa lampu jalan, kanan kiri hany ada sawah dan kebun penduduk dan aku biasanya mengikuti mobil atau sepeda motor yang sama-sama melaju searah untuk menenagkanku akan kesepian. Setalah sholat itu aku segera mengikuti sebuah mobil yang searah jalan ku.

Benar dugaanku, jalanya sangat sepi dan gelap. Hanya sesekali aku lihat truk dari arah berlawanan. Sudah jalanya berliuk-liuk tanpa ada pembatas jalan yang menyala hampir-hampir aku masuk ke sawah kalau tak ada mobil di depanku. Habis jalanya benar-benar gelap, walaupun lampu jarak jauh sudah di nyalakan tapi tak terlihat di depan itu sawah atau jalan.

Mendekati jalanan yang naik turun udara dingin terasa, sepertinya hujan akan datang firassatku dalam hati. Dan benar saja saat jalanan menanjak hujan langsung turun dengan deras tanpa di dahului hujan rintik-rintik. Saat itu juga ku segera mencari emperan toko atau rumah yang bisa buatku berteduh untuk memaki jas hujan dan melepas sepatu. Karena jalanya menanjak dan menurun tajam cukup susah aku mencari tempat yang kumaksut. Hingga kulihat lampu sepeda motor yang menikung dari jalan yang menandakan sepeda motor tersebut akan berteduh. Kuikuti arah sepeda motor tersebut yang ternyata berhenti di depan emperan toko yang tutup.

Di emperan toko tersebuh sudah banyak pengendara lain yang sudah terlebih dahulu berteduh. Tanpa pikir panjang ku ikut berteduh dan kupaki lagi jas hujanku. Kulihat nama daerah toko tersebut dank u tahu jarak ke rumah tiggal 1-1,5 jam lagi. Karena terlalu banyak yang berteduh ahirnya kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Seingatku juga daerat itu kalau hujan hanya di satu tempat saja dan di luar daerah yang tak hujan yang ada terang benerang tanpa setetes hujanpun.

Dengan pedenya karena merasa beberapa kilo lagi paling tidak hujan, kupacu lagi sepeda motorku. Tanpa sepatu udara malam itu terasa sangat dingin di kaki ditambah kaki yang basah karena air hujan menjadi sangat dingi. Mungkin juga karena hujan  jalan menjadi sangt sepi.

Tadi yang rencananya mencari mobil atau motor yang jalanya searah agar tidak merasa berjalan sendiri kali ini tak kutemukan satu kendaraan bermotorkun yang kulihat. Padahal malam itu benar-benar gelap tanpa penerangan, ditambah hujan jarak pandang tak lebih dari 5-10m saja. Kupacu sepeda motorku agak lambat, yang kulihat di jalan buka jalanya atau pohon di pinggir jalan. Yang kulihat garis putih yang berada di tengah jalan karena hanya garis itu yang terlihat tidak hitam saat malam.

Pada daerah yang menikung berulang kali aku hanpir terjatuh karena masuk jalan yang berlubang. Habisnya tak terlihat jaln tersebut berlubang atau tidak karena tergenag air. Garis putih di tengah jalanpun juga tertutup air jadinya aku susah menemukan mana jalan beraspal dan mana jalan tanah.


Hampir setengah jam lebih aku seperti orang buta yang hanya meraba-raba jalan saja. Hanya terkadang kilatan halilintar yang memberiku petunjuk jalan di depanku. Sehingga aku tahu saat akan menikung dan jalanan naik atu trun. Kilatan itu hanya beberapa detik saja menerangiku sebelum langit menjadi gelap lagi.

Hingga kulihat di depan ada cahaya merah dari kendaraan bermotor. Bukan Cuma satu tapi ada beberapa, karena semangatnya aku melihat ada teman di jalan segera kususul cahnya itu. Cahanya itu ternyata dari sebuah truk yang di belakangnya sepeda motor yang kuperkirakan yang mengendarai ibu-ibu. Mungkin ibu itu seperti aku yang mencari teman atau sekedar kendaraan bermotor yang sejalan denganya agar perjalanan di malam hari tidak terlalu menakutkan.

Hanya sekitar 15 menit saja aku dan ibu itu mengikuti truk di depan kami. Sebuah tanjakan yang curam membuat truk itu ahirnya mogok karena tak kuat untuk naik. Hingga ahirnya di malam yang gelap gulita itu hanya aku dan ibu itu saja yang terlihat. Ibu lebih melaju di belakangku, saat aku berjalan cepat ibu itu juga berjalan cepat dan saat aku melambat ibu itu juga berjalan melambat.  Hingga kulihat di depan ada cahanya kendaraan bermotor lagi dank u susul kendaraan tersebut. Kali ini cukup beruntung karena yang melaju tidak hanya satu tetapi ada 6 kendaraan bermotor.  2 mobil dan 4 sepeda motor. 2 mobil cheri, satu Honda megapro, satu Yamaha Jupiter, satu Honda supraX dan stunya Honda Vario dutambah aku dan itu tadi jadinya kita berjalan beriringan.

Cukup lama hujan itu terasa tak segera berhenti. Mungkin karena melaju ku yang tak cepat mungkin juga karena memang hujan yang merata. Tapi robongan kendaraan kami memang melaju tak lebih dari 40km/jam. Jelas alansanya, hujan yang sangat lebat dan tanpa ada penerang jalan mebuat semua lebih berhati-hati dalam melajukan kendaraanya.

Rombongan itu ahirnya terpecah setelah satu mobil cheri menikung di jalanan makadam desa dan yang satunya berhenti di sebuah rumah yang tak ada lampunya. Perkiraanku saat itu mungkin sedang pemadaman listrik karena hujan yang sangat lebat itu. Tingallah 6 sepeda motor yang melaju beriringan. Sang megarpro berusaha melaju kencang, diikuti jupiterZ dan akupun mengikuti mereka. Sedang supraX, Vario dan ibu yang tadi mengikutiku masih melaju  jauh di belakang kami.

Aku mengikuti megapro tersebut karena ingin cepat sampai rumah. Walaupun kami melaju cukup cepat pada saat hujan seperti itu oleh bantuan cahanay sepeda motor kami bertiga jalan agak terlihat tak segelap tadi. Inrinagn 3 sepeda motor kami itu berpencar pada perematan sebuah terminal yang sudah tak segelap tadi karena jalanannya sudah ada penerang jalan. Sang penegndara megapro belok ke kanan. Aku lurus kedepan. Dan sang pengendara jupiterZ yang di belakangku kuliaht belik kea rah kiri.

Dari situ aku sedikit berani berjalan sendiri karena jalanan tinggal lurus saja tanpa tikungn yang berkelok-kelok lagi. Ditambah dari situ sudah ada penerangan jalan walau jarang-jarang. Rumah-rumah penduduk dan toko-toko juga sudah mulai ada di bandingkan jalanan gelap yang kanan kiri hanya sawah dan kebun tadi.

Walaupun hujan masih turun tapi sudah tak sederas tadi. Jari-jari kakiku sudah mulai terasa membeku dan mengerut. Nafasku sudah berembun di kaca helem yang kupakai.

Tiba di perbatasan kotaku yang sekaligus perbatasan propinsi aku sudah lebih tenag lagi. Kendaraan bermotor sudah terlihat sedikit ramai, hujannya juga sudah tinggal rintik-rintik kecil. Walaupun begitu aku mengikuti sebuah mobil karena sebelum masuk kota akan melewati tikungan pisang yang melengkung panjang dan kanan kirinya hutan. Bukanya aku takut akan keadaan itu tetapi memang keadaanya menakutkan.

Setelah melewati tikungan pisang itu jalanan tinggal lurus selurus-lurusnya untuk masuk kota. Anehnya juga setalah tikungan tersebut hujan berhenti total.  Udarapun sudah tak seperti tadi yang sangat dingin walaupun sudah pakai jas hujan anti angin dan air.


Di sebuah emperan rumah di pinggir jalan yang terdapat pagar tinggi ku berhenti tuk melepas jas hujanku kembali. Kulirik jam sudah menunjukkan jam 8 malam, 4 jam perjalanan telah kulewati. Padahal bisanya hanya 2,5-3 jam untuk sampai rumah dan ini 4 jam masih belum sampai rumah. Tak lupa kulihat Hp dan ternyata ada 4 SMS yang menumpuk tak terbaca. Dua dari ibu yang menanyakan aku, satu dari kakakku yang menayakan sudah sampai mana dan satu dari cewekku yang minta di jemput. Yang terahir sungguh sial karena aku lupa tak bilang kalu aku pulang kerumah.

Perjalanan menuju kota kabupatenku cukup menyenagkan. Kusempatkan membeli roti bakar untuk ibu dan kepoakanku yang sakit. Kalu kakakku tidak usah karena dia di rumahnya sendiri, Cuma anaknya saja yang di titipkan ke ibu karena pembantunya juga sakit. Dari pada tak ada yang merawat di rumah karena kedua orang tuanya kerja ahirnya anaknya di titipkan ke ayahku. Dan ternyata ibuku ahirnya juga tertular sakit.

Perjalanan dari kota kabupaten ke kecamatan rumahku berada berjarak 30 menitan. Disana melewati perkebunan kayu putih bahan untuk menyak kayu putih. Nah saat di tengah-tengah perkebunan tersebut hujan deras datang lagi. Mau tak mau kulaju saja sepeda motorku karena aku tak mau berhenti di tenagh-tengan pepohon kayu putih tersebut. Ya cerita dari cerita katanya di daerah tersebut masih ada perampok jadi aku lebih memlih terus jalan. Apalagi bukan aku saja yang menembus derasnya hujan di tengah hutan kayu putih tersebut. Masih banyak yang melaju menembus derasnya hujan karena takada yang mau berhenti di tengah pepohonan tersebut.

Sebelum masuk perbatasana kecapatan rumahku hujan telah berhenti. Baju, celana, sepatu dan helmku basah kuyup. Mau tak mau besuk pagi semuanya harus di jemur. Sampai di rumah sudah jam 8.40 malam.

Saat masuk di rumah keponakanku masih belum tidur padalah biasanya jam 7 sudah tidur. Menurut ayah dia menunggu aku pulang baru mau tidur. Sedangkan ibu baru saja muntah. Saat masuk rumah dengan keadaan basah kuyup keponakanku itu berlari menyusulku dan memelukku. Tapi karena aku basah kuyup ahirnya kusuruh berhenti karena aku takut dia tambah sakit.

Setelah mengeringkan diri dan ganti baju lalu ku masak air panas. Kubuatkan susu untuk keponakanku yang usianya masih 3,5 tahun tersebut, teh untuk ibu dan kopi untukku. Tak lupa kubikinkan mie intan untukku sendiri. tapi kenyataanya mie itu yang makan aku, ibu dan keponakanku. Sedangkan ayah segera beristirahat karena besok kerja dan mungkin capek mengrusi keponakanku tersebut.

Senin, 16 April 2012

Slamat Tinggal LPM FOLIA Tercinta

LPM Folia itu adalah nama sebuah organisasi yang telah ku ikuti dua tahun ini. Semenjak aku kuliah hingga semester  5. Organisai ini tertuju pada sebuah jurnalistik kampus yang kegiatanya meliput, buat bulletin dan majalah dll. Disini aku pernah menjabat sebagai staf redaksi lalu menjadi pimpinan redaksi dan sekarang aku hanya menjadi anggota.

Seperti organisai yang pernah ku ikuti di sekolah dulu, teman-teman menjdi keluarga keduaku setlah keluaga di rumah dan keluarga di kots. Tapi entah kenapa di sini aku tak bisa mendapatkan sebuah keluarga yang benar benar bisa aku anggap sebuah keluaga. Pada tahun pertama saat menjadi staf redaksi aku hampir tak pernah bertemu langsung dengan bidang-bidang lain, dengan teman-teman satu staf saja aku hampir tak kenal dan tak tahu wajahnya. Yang aku kenal saat itu hanya para kakak tingkat dan beberapa anak PPA. Ini sama sekali bukan salahku tidak menganal mereka, pasalnya setiap pembuatan buletin kami tak pernah bertatap muka alias rapat secara sms. Ditambah akan kesibukan masing-masing ketika ada acara tatap muka kami tak bisa berkumpul semuanya.

Baru menginjak tahun ke dua aku mengenal semua teman-temanku, secara tidak langsung aku harus mengenal mereka karena aku sebagai pimpinan redaksi. Menjadi pimpinan redaksi bukanlah pilihan yang dapat dengan mudah di pilih, ini karena tak ada yang mau menduduki posisi ini padahal pengurus yang lama ya tinggal itu saja. Jadilah aku menerima tawaran pimpinan umum untuk menjadi pimpinan redaksi. Sebenarnaya ada dua pilihan aku jadi pimpinan redaksi atau jadi seketaris umum, tapi aku tak iklas jika pimpinan redaksi di pegang oleh bukan dari staf redasi.

Walaupun aku akrab dengan semua pengurus dan anggota saat itu tetapi masih ada ke ganjilan di dalam hati. Ke ganjilan itu karena alas an klasik yang sudah dari awal aku masuk hingga sekarang yaitu saling memiliki grup anak AGT dengan anak AGT dan anak ITP dengan anak ITP sedang anak D3 sama anak D3 saja, sedangkan aku yang palaing beda sendiri yaitu dari Proter. Rasanya aneh saat kumpul bersama dengan mereka semua yang mereka bicarakan kebanyakan soal kuliah mereka, dosen mereka atau tentang teman mereka yang sama sekali tak aku kenal. Kalau sudah begitu aku lebih suka diam lalu main game di computer.

Dan hari ini adalah pelantikan pengurus baru dimana sekarang kepemimpinan tertinggi oleh Maman salah satu mantan staf redaksi bawahanku yang hampir tak pernah menjalankan tugas. Ya hampir tak pernah dan sama sekali. Yang bikin aneh pada organisasi ini ya itu anak yang mau mengerjakan tugas malah di keluarkan oleh pertimbangan entah dari mana aku tak tahu. Staf yang di keluarkan itu adalah stafku sendiri, katanya sih alasanya karena dia ga mau berkumpul saat ada acara bedar kalau menurutku itu wajar toh dia juga bilang ga bisanya karena ada acara walaupun berbohong. Selain itu katanya juga dia pernah menjelekkan anak folia di jejaring sosial, aku kurang tahu lah namanya juga jejaring social wajar lah jika sebuah unek-unek di keluarkan.

Di organisasi ini sebenarnaya bukan membuatku punya keluarga baru tetapi juga kamar baru. Bagai mana tidak jika hanya aku saja yang sering ke seseketariatan di situ akau suka tidur, liat tv (sebelum rusak), main game dan internetan. Kalau malam di temani anak-anak teater aku seing bermalam di sana.

Sebenarnya sangat berat aku untuk keluar dari lingkung ini. Hampir setiap waktu menganggurku bisa ku lampiaskan pada organisasi ini walaupun ahirnya pada organisasi ini juga yang menyibukkanku saat banyak tugas kulaih yang liar mengejarku untuk segera di selesaikan. Ini bagaikan sebuah seni mengatur waktu, tenaga, pikiran dan yang jelas mengatur uang hahaaa…..

Mulai hari ini aku sudah bukan lagi sebagai pengurus yang sudah tak harus memikirkan bagaimana majunya dan runtuhnya organisasi ini. Aku juga tak harus berkutik akan majalah, buletin dan mading yang tiap bulan terurus. Ya dalam masa jabatanku dulu membuatku sangan frustasi, dengan hanya 7 staf dengan 2 staf yang tak pernah aktif dan 1 staf yang telak di keluarkan membuat akau menjadi gila. Ditambah pimpinanku dulu yang memaksakan kehendak ini itu yang melebihi wewenagku yang ku usahan ku jalani semauku. Orang mikin buatnya saja dah bikin seters kok malah nyuruh sampai penyebarannya, padalah itu bukan tugasku. Tapi tak masalah, itu masa lalu.

Sekarang saatnya aku berkonsentari kuliah yang hanya tinggal 2 semester ini yang di penuhi perkuliahan. Semester ahir tinggal sekripsi dan mengulang saja. Amin.

Ku doakan semoga teman-teman pengurus folia sekarang semakin lebih baik dengan di tandai berlipat gandanya jumalah pengurusnya. Ditambah sekarang yang di redaksi di pipin temanku sedniri yang selalu dapat membuat ide-ide yang cemerlang dan mampu menguasai sejumlah pembuatan masalah dari awal hingga ahir. Aku menunggu karya-kaya kalian teman-teman folia. Kutunggu majalahnya dan buletinnya.

Minggu, 15 April 2012

Panas dan Dingin

Alhamdulillah malam ini begitu dingin kawan, padahal tadi siang hingga sore udara sangatlah panas. Panas sekali malahan, sampai-sampai aku ingin berendam di air es. Hahaaa….

Memang aku lebih suka udara dingin dari pada panas. Kalian tahua alasanya kawan. Menurutku udara panas akan membuat kita cepat marah, menambah sering mendendam, dan membuatku tak bisa konsentrasi. Berbeda dengan udara dingin, udara dingin selalu dapat menenangkanku, mengingatkanku akan hal-hal indah dan selalu mengingatkanku pada keangungan-Nya.

Aku tak tahu persis dari mana awal semua itu tapi itulah yang kurasakan dari dulu. Seolah panasnya udara itu api yang membakar semangatku menjadi abu yang siap lenyap dari semua mimpi-mimpi. Menambah panasnya sebuah amarah sehingga siap meledak kapanpu di picu. Panaspula yang membakar semua ide-ide dalam otakku sehingga aku jadi malas berpikir, lebih diam karena tak tahu apa yang akan aku bicarkan, dan membuatku berpikir negataif akan semua keadaan. Panas yang ahirnya membawaku dalam kantuk dan tidur tanpa baju.

Berbeda dengan udara dingin. Setiap merasakan udara dingin yang kurasakan adalah semua kehidupan yang telah aku alami, semua sukur atas nikmat dan penderitaan yang telah kualami dan mengenang semua kehidupan di dunia ini. Udara dingnlah yang berhasil mengumpulkan semua ingatan-ingatan dalam diriku. Seperti hanya air yang membeku karena udara dingin, pikiranku pun seperti itu. Saat udara dingin seolah-olah semua ide dalam pikiran itu berkumpul jadi satu dan siap dilontarkan dalam bentuk ocehan-ocehan maupun tulisan-tulisan.

Udara dingin pula yang bisa membuatku tenang dan cepat memahami  akan setiap masalah yang ada. Di setiap malam yang berhembus udara dingin aku selalu puny aide yang siap-siap di tembakkan keesokan harinya, tetapi karena panasnya siang ide-ide itu lenyap bagai abu. Hahaaa…. Mungkin karna itulah semua yang kurencanakan bisa gagal berulang-ulang kali. Bukan hanya sekali dua kali kegagalan ide malam hari itu tetapi sudah ribuan kali gagal di lontarkan ide-ide sebelum tidur.

Di kota aslalku sendiri jarang sekali berhawa panas. Udara panas terjadi ketika cuaca sedang mendung yang menandakan akan hujan. Ketika hujan tiba udara dinginlah yang akan menyengat. Pada musim kemarau yang di kota-kota lain terasa panas berbeda di kota aslku, saat kemaru yang terjadi adalah angin kering yang sangat dingin pagi hingga pagi lagi. Walaupun tidak hujan saat kemaru udara yang ada adalah dingi. Saat pagi di musim kemarau kalau tidak ada angin yang ada adalah kabut putih yang tebal, kalaupun berangin dan tak berkabut udara pagi akan sedingin di pegunungan hingga membikin mandi pagi adalah hal yang paling malas.

Siang dan sorenya saat musim kemarau yang ada adalah angin super kencang yang siap melayangkan layang-layang raksasa ke langit-langit kota. Angin yang super kencang dan bisa membawa jemuran-jemuran masuk ke rumah tetangga. Belum lagi saat mengendarai kendaraan bermontor, seolah-olah akan terjungkal karena terlalu kencangnya angin yang bertiup.

Pada malam hari jika rumahmu memiliki halaman luas apa lagi depanya sawah jangan harap dapat tidur nyenyak tanpa selimut. Dinginya malam musim kemarau bisa melebihi dingnya saat musim penghujan. Kalau keluar rumah pastikan memakai jaket tebal angin biar tak masuk angin, karna pada malah hari angin biasanya makin kencang dan mulai sedikit mereda saat tengah malam.

Jumat, 13 April 2012

keinginan Berlibur

Sudah lama sekali aku tidak pergi ke Denpasar Bali. Terahir kalinya mungkin kelas 3 SMP atau 1 SMA, aku sedikit lupa. Yang jelas terahir kali aku kesana HP-ku masih Siemens C35, HP pertama yang aku gunakan. HP dengan warna hitam dan memiliki antenna yang cukup besar dengan body melekuk seperti huruf S. HP itu kubeli saat kelas 2 SMP dan rusak saat menginjak kelas 2 SMA, cukup lama juga aku menggunakannya dan itulah HP yang mengingtkanku saat di pelabuhan Ketapang Banyuwangi saat akan menyebrang ke pulau dewata.


Saat itu aku dan ibuku pergi ke Denpasar karena ada acara keluarga. Iya beberapa keluargaku tinggal di sana di Denpasar. Aku cukup dekat dengan sepupuku disana, usia kita berjarak 2 tahun jadi kami lumayan akrap. Saat naik bus Surabaya-Denpasar aku dan ibuku mendapat tempat duduk paling depan. Karena kami menggunakan bus malam jadi aku lebih sering tertidur. Mungkin saat tertidur itulah HP ku jatuh. Saat di dalam kapal feri aku mencoba mencarinya di dalam bus dan hasilnya nihil, tetapi Alhamdulillah saat akan turun bus sang kondektur bus menanyakan sapa yang kehilangan HP dan itulah HP ku.

Aku ingin sekali suatu saat nanti bisa mengajak Ibu dan Bapak kesana, berjalan-jalan disana, menikmati pagi dan sore hari di pantai, menikmati suara ombak, menikmati tiupan angin yang kencang dan mengenang saat-saat masih anak-anak berlibur kesana. Sejak kakakku kuliah di luar kota hampir kami sekeluarga tidak pernah berlibur dan jalan-jalan, setelah kakakku selesai kuliah pun ganti aku yang kuliah keluar kota. Lalu kakakku menikah dan kami sudah tak pernah bisa pergi berlibur bersama lagi seperti saat masih kanak-kanak lagi.

Aku ingin sekali masa-masa itu, masa dimana aku, ibu, bapak dan kakakku bisa pergi bersama-sama, bersama menikmati libur yang panjang. Sekarang hampir tak pernah bisa berkumpul lengkap, paling hanya sebulan sekali kami berkumpul bersama. Di saat seperti itu kami lebih senang di rumah, menikmati masakan ibu atau menikmati suasana dirumah yang telah sebulan lebih aku dan kakakku tinggalkan. Saat libur seperti itu aku dan kakakku memang terkadang janjian untuk pulang kerumah, tetapi tak jarang hanya salah satu dari kita yang pulang karena kesibukan masing-masing.

Saat liburan seperti itu bukan suasana seperti masa kecil yang bisa bermanja-manja pada orang tua yang kurasakan, tetapi menjadi masa aku belajar menjadi seorang ayah dari keponakan-keponakanku. Bagaimana tidak, anaknya kakakku itu sangat manja padaku. Keponakanku itu yang selalu mengalahkanku untuk dekat dengan ibu ataupun bapakku. Maklum cucu pertama orang tuaku, di manaj dan di sayang melebihi anak-anaknya yang telah dewasa dan telah merasakan kasih sayangnya.

Kapan kiranya aku, bapak, ibu, kakakku, kakak iparku dan keponakan-keponakanku bisa berlibur bersama. Libur dan berjalan-jalan bersama ke tempat wisata yang asik dan agak jauh yang sama sekali belum pernah kita temui. Seperti ke Bromo atau ke Dieng atau ke Denpasar yang ku impikan. Kakakku dan suaminya sibuk dengan pekerjaan mereka, aku masih sibuk dengan kuliah, keponakannku sekarang masih balita, bapak dan ibu masih bekerja seperti dulu.

Aku ingin jika sudah mendapat gaji sendiri aku bisa mengajak keluargaku itu berjalan-jalan sekeluarga besar, kalu bisa di tambah istri dan anak-anakku kelak. Dengan membawa dua mobil pribadi menyebrangi pulau, menginap beberpa hari di hotel dan mengunjungi keluarga yang berada di luar jawa. Tapi mungkinkah itu bisa terjadi?

Bayangkan saja sudah susah, mencari hari libur panjang untuk kami masing-masing pastilah susah. Apa lagi libur dimana bisa bersama-sama dari kesibukan yang berbeda-beda. Pastilah aku suatu saat akan sibuk dengan pekerjaku sendiri, kakakku dan suaminya juga sama, kedua keponakanku pastilah menginjak bangku sekolah yang tak bisa lagi berlibur seenaknya. Kalu bapak dan ibu kemungkinan sudah pension jadi mudah. Yang susah ya menyatukan anak-anak ibu dan bapak.

Aku merasa rindu akan rasanya berlibur, berlibur dan berjalan-jalan dengan keluarga. Keluarga dimana masih ada orang tuaku yang telah mendewasakanku. Aku rindu akan pulau dewata di timur Jawa, rindu akan pantai dan pegunungan. Aku rindu akan ibu dan bapak di rumah, rindu akan celotehan dan tangis kedua keponakanku, rindu omelan kakakku dan rindu akan sebuah ketenangan.

Kapan kiranya impian impian itu bisa terwujut. Apakah ini sebuah fantasi hidup atau Cuma angan-angan belakang. Bisakah aku suatu saat nanti mewujutkanya dengan kesibukan-kesibukan kami masing-masing di masa depan. Apakah kiranya orang tuakau dan kakakku juga menginginkanya.